Anda di :  Home
Jin dan Iblis
Senin, 04 Juli 2011

Dari segi ethimologi  jin berasal dari kata dasar "  جنّ  "  yang berarti tertutup  "  ستر ", sehingga  segala sesuatu yang  tertutup dikatakan  "  جن  ", termasuk malaikat,  menurut  orang-orang  Jahiliyah  termasuk  jin  lantaran malaikat  tak nampak bagi kita.

Penggolongan Malaikat dan lainnya dalam kelompok jin  ini ternyata juga  dibenarkan  oleh  Imam As  Suhaili dalam  bukunya An  Nataij. Adapun  pimpinan jin  disebut Al Jan  "  الجان  "  demikian menurut al Jauhari pengarang kitab As Shihah.

Sebagaimana kita ketahui  dari Al  Qur'an  bahwa  jinpun  ada  yang  beriman dan beramal baik, demikian  juga  ada sebagian  jin  ahli maksiat.  Jin  yang ini dinamakan "شيطان ",mereka  itu adalah pembantu-pembantu lblis yang telah terkenal bahwa dialah makhluk yang pertama  kali berani melanggar perintah  Allah  Ta'ala,  sehingga  tepat  sekali  dengan arti bahasanya yakni berasal dari kata شطن عنه    yang bermakna jauh dari sesuatu.

 Kalau dihubungkan dengan perintah Allah, maka syaithan berarti  jauh dari yang Maha Kuasa.

 

Diatas  telah  disinggung kata-kata  Iblis,  siapakah sebenarnya dia?

Iblis menurut  arti  bahasa berasal  dari Ablasa  (  أَبْلَسَ  ) yang berarti putus asa dari Rahmat Tuhan.

Ungkapan diatas menunjukkan bahwa  lblis itu nama aslinya tidak  Iblis. Dia  disebut  iblis  setelah mendapat  la'nat  dari Allah Ta'ala. Ibnu  Abi  Dunya dan yang pernah meriwayatkan suatu Hadits dari Rasulullah  saw  bahwa nama Iblis pada waktu masih bersama dengan malaikat adalah  'Azazil,  jadi  dia termasuk golongan  malaikat yang bersayap empat.

 Kemudian dia terkena  laknat,  lantaran  tidak mengikuti perintah Allah Ta'ala, yakni memberi penghormatan kepada manusia pertama (Adam), sehingga  jadilah dia putus asa dari harapan. Abil Mustana meriwayatkan lain, yaitu bahwa Iblis namanya adalah Nail,  kemudian  setelah  Allah  Ta'ala  marah  terhadapnya, dinamakanlah  ia  "Syaithan". 

 Demikian juga  riwayat  Ibnu Abbas  رضي الله عنهما mengatakan  bahwa  ketika  iblis menentang perintah Allah,  terlaknatlah dia dan ia menjadi  Syaithan.

 Dari uraian diatas dapat dimengerti bahwa:

·         Iblis/syaithan itu asalnya adalah dari kelompok Malaikat.

·         Iblis  adalah sebutan  baru,  yaitu  setelah  ia  mendapat laknat  dari  Allah Ta'ala. Nama aslinya adalah Azazil/Nail.

 Abu  Umar bin Abdul Barr pernah menjelaskan bahwa  jin  mempunyai tingkalan-tingkatan, sehingga dalam sebutan sehari-hari pun dibedakan, yaitu:

·         Jin yang tidak mengganggu manusia disebut Jiny.

·         Jin yang  menetap bersama-sama manusia,  sehingga  nianusia  bersangkutan tampak tidak waras, dinamakan 'Amir.

·         Jin  yang sering mengganggu anak-anak  kecil mereka (orang-orang) mengatakan Arwah.

·         Bila jin  ini sangat nakal dalam arti melebihi dari gangguan ringan (tidak  sekedar tampak di hadapan anak-anak  kecil  itu)  disebut Syaithan, yang lebih dari  ini dinamakan Maridun.

·         Dan yang paling nakal disebut  'ifrit .

 Atau lebih rinci :

1. Iblis : (Bapak moyang Setan dan Jin)

2. Asy-Setan : Setan-setan

3. Al-Maraddah : Pembisik(pewas-was)

4. Al-‘Afaariit : Penipu-penipu

5. Al-A’waan : Pelayan-pelayan

6. Al-Ghawwaasuun : Penyelam-penyelam

7. Al-Tayyaaruun : Penerbang-penerbang

8. At-Tawaabi’ : Pengikut-pengikut (Pengekor)

9. Al-Quranaa’ : Pengawan-pengawan

10. Al-‘Ummaar : Para Penggembira

 7 Raja Jin yang Kafir:

1. Mazhab

2. Marrah

3. Ahmar

4. Burkhan

5. Syamhurash

6. Zubai’ah

7. Maimun

 7 Raja Jin yang Islam:

1. Ruqiyaail

2. Jibriyaail

3. Samsamaail

4. Mikiyaail

5. Sarfiyaail

6. ‘Ainyaail

7. Kasfiyaail

Raja Jin yang menguasai semua jin tersebut bernama THATHAMGHI YAM YAL.

 Sedangkan Anak keturunan Iblis, menurut Sayyidina Umar رضي الله عنه Bahwa Anak keturunan Iblis/Azazil itu mempunyai tugas masing-masing :

1.      Zallaitun, Zalfaitoun dipanggil juga Zallanbur, dalam melaksanakan tugasnya menggoda para pedagang di pasar, agar gemar omong, sumpah palsu, memuji dagangan sendiri, berbohong terhadap takaran dan timbangan. Di dalam sebuah kamus disebutkan, bahwa tugas Zallaitoun atau Zallanbour ini adalah memisahkan antara suami dan istrinya dan membeberkan aib seorang wanita kepada suaminya.

2.      Watsin, selaku pengelola bencana, dalam menunaikan tugasnya ia menggoda agar si korban berteriak-teriak, memukul-mukul din sendiri dan sebagainya. Ada yang mengatakan, bahwa setan bencana adalah Tabar.

3.      A'wan, dalam menunaikan tugasnya bisa saja dengan mempengaruhi pejabat, agar berbuat aniaya.  

4.      Haffaf, setan   pada khamr dan yang terkait dengan khamr,

5.      Murrah,  Setan pada alat musik (yang ditiup)

6.      Laqous dipanggil juga Zajis. Adalah setan yang ada pada orang Majusi/penyembah api. Ada yang mengatakan bahwa Laqis dan Walhan bersama-sama bertugas melakukan godaan pada thaharah (bersuci) dan salat. Disini mereka berusaha minimbulkan was-was.

7.      Masuth, adalah setan gossip penyebar berita bohong, atau menambahi/mengurangi berita. Masuth, dipanggil juga sebagai Mathoun.

8.      Walhan, bertugas mengganggu orang wudlu, shalat agar was-was. Ada yang berpendapat bahwa setan orang shalat itu bernama, Khanzab.

9.      Dasim, dalam menunaikan tugasnya, ia mengobar-ngobarkan api pertikaian antara suami-istri, agar terjadi perceraian di antara keduanya.Pendapat lain mengatakan bahwa Dasim adalah nama untuk setan yang pada makanan/minuman yang tidak dibacakan Asma Allah ketika memakan/meminumnya, atau ia berada pada pakain/selimut dan ikut tidur bila tidak membaca Asma Allah, juga berada pada pakaian yang dilipat dan tidak membaca Asma Allah. Dasim juga suka berada di rumah yang tidak dibacakan Al Qur’an atau kalau akan masuk rumah mengucapkan salam.

 Sebagian ulama menyebutkan pengganti Laqous, Murrah dan Haffaf dengan tiga anak iblis lainnya yaitu:

  1. Awar ia bertugas mengajak kepada penzinaan. Ia ”meniup” kemaluan laki-laki dan pantat wanita.
  2. Wasnan, ia menggoda orang tidur, membebani kepalanya (si orang tidur tadi) serta membuat pelupuk mata, agar tetap tidur dan tidak bangun untuk mengerjakan salat dan ibadah yang lainnya. Di lain kesempatan ia juga mengganjal mata supaya tidak tidur untuk diajak berzina, atau perbuatan jahat lainnya.
  3. Abyadh, ia bertugas menggoda para nabi dan wali.

 Jin Ifrit (Jin yang paling jahat) yang mempunyai kerajaan yang besar yang ditaklukkan pada zaman  Nabi Allah Sulaiman عليه السلام :

1. Thamrith

2. Munaliq

3. Hadlabajin

4. Shughal

Dan Malaikat yang mengawal semua jin-jin di atas bernama Maithatarun yang bergelar QUTHBUL JALALAH.

(Wallahu A'lam).

Referensi: Kitab Nashaihul Ibad Ibn Hajar Al Asqalani, Kitab Min Aja’ibil Jin-Asy Syibli

 
Kegiatan AAI dan Jam'iyah Tilawatil Qur'an
Senin, 11 April 2011

Serpong:

Dalam release yang di muat dalam www.gusarifin.com dan www.jatiqo.com, bahwa Kegiatan-kegiatan penting akan dilaksanakan dalam rangka Milad ke 4 Jam'iyah Tilawatil Qur'an. Juga berita gembira, diraihnya Best Seller Buku-buku Gus Arifin

_____________________________________________________________________________

Serpong (aai-news):

Alhamdulillah buku buku yang ditulis oleh pendiri Agus Arifin Institute, Gus Arifin, mendapatkan sambutan dan apresiasi yang baik dari masyarakat. Dari 18 judul Buku yang telah diterbitkan, dua diantaranya meraih "Best Seller" yaitu: Doa dan Dzikir Ibadah Haji dan Umroh serta Peta Perjalanan Ibadah Haji dan Umroh. 

Dalam keterangan yang disampaikan oleh Gus Arifin pada saat Ngaji Keliling di At Taqwa Nusa Indah Loka Graha Raya Bintaro Jaya, bahwa: "Insya Allah akan segera terbit buku Fiqh Zakat Infaq Dan Shadaqah dan Sarh Tafsir Jalalain - Fathul Arifin, mudah mudahan bermanfaat." kata Gus Arifin.

Dalam rangkaian acara Milad Agus Arifin Institute dan juga Jam'iyah Tilawatil Qur'an akan diselenggarakan beberapa Kegiatan, antara lain: Ziarah ke Maqam Waliyullah di Jawa Timur, sekaligus silaturahim dengan Pengurus Jam'iyah Tilawatil Qur'an DPW Jawa Timur (21-24 April 2011). Dan akan diadakan Khitanan Massal, Pengobatan Massal pada akhir Juni 2011. (dept it)

 

 
Pemilik Kunci alam Ghaib
Selasa, 08 Maret 2011

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

 QS Al An’am (6):59 : (Dan pada sisi Allahlah) Yang Maha Luhur (kunci-kunci semua yang gaib) simpanan-simpanan ilmu gaib atau jalan-jalan yang mengantarkan kepada pengetahuan tentangnya (tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri) ilmu tentang kegaiban itu ada lima macam; mengenai penjelasannya telah dikemukakan dalam surah Luqman ayat 34, yaitu firman-Nya, "Sesungguhnya Allah hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat... sampai akhir ayat." Demikianlah menurut riwayat Imam Bukhari (dan Dia mengetahui apa) yang terjadi (di daratan) permukaan bumi (dan di lautan) perkampungan-perkampungan yang ada di atas sungai-sungai (dan tiada sehelai daun pun yang gugur) huruf min adalah zaidah/tambahan (melainkan Dia mengetahuinya pula, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering) diathafkan kepada Lafal waraqatin (melainkan tertulis dalam kitab yang nyata) yakni Lauhul mahfudz.. Al-Istitsna/pengecualian berkedudukan sebagai badal isytimal dari istitsna yang sebelumnya. (Tafsir Jalalain)

 Pada ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa kunci-kunci pembuka pintu untuk mengetahui yang gaib itu hanya ada pada-Nya, tidak ada seorangpun yang mempunyainya.

 Yang dimaksud dengan yang ghaib ialah sesuatu yang tidak diketahui hakikatnya yang sebenarnya. Sekalipun manusia telah diberi Allah pengetahuan yang banyak tetapi pengetahuan itu hanyalah sedikit bila dibanding dengan pengetahuan Allah. Amatlah banyak yang belum diketahui oleh manusia.

 Lima Macam Kunci Ghaib

Mengenai kunci-kunci yang gaib itu, Rasulullah saw  mengatakan ada lima sebagaimana tersebut dalam firman Allah  swt

 إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ(34

Sesungguhnya Allah hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat dan Dialah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim dan tidak seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tidak seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S Luqman: 34)

 Pada ayat ini Allah  swt  menerangkan lima perkara gaib yang hanya Allah sendirilah yang mengetahui perkara itu yaitu:

1.      Kapan hari Kiamat

2.      Hujan

3.      Rahasia (isi) Rahim

4.      Apa yang akan diusahakan/terjadi, besok

5.      Di Bumi mana akan mati (mati)

 Asbabun Nuzul QS Luqman : 34

وقال ابن أبي نَجِيِح، عن مجاهد: جاء رجل من أهل البادية فقال: إن امرأتي حبلى، فأخبرني ما تلد؟ وبلادنا جَدبَةٌ، فأخبرني متى ينزل الغيث؟ وقد عَلمتُ متى وُلدتُ فأخبرني متى أموت؟ فأنزل الله عز وجل: {إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ [وَيُنزلُ الْغَيْثَ ] }  ، إلى قوله: { إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ } . قال مجاهد: وهي  مفاتيح الغيب التي قال الله تعالى: { وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ } [الأنعام: 59]. رواه ابن أبي حاتم، وابن جرير. وقال الشعبي، عن مسروق، عن عائشة، رضي الله عنها، أنها قالت: مَنْ حدثك أنه يعلم ما في غد فقد كذب، ثم قرأت: { وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا }

Ibnu Abi Najih mengetengahkan sebuah hadis melalui Mujahid yang menceritakan, bahwa ada seorang lelaki dari kalangan penduduk Badui (orang Arab kampung) datang menghadap kepada Rasulullah saw  lalu ia bertanya, "Sesungguhnya istriku sedang mengandung, maka ceritakanlah kepadaku, lelaki ataukah perempuan yang akan dilahirkannya? Dan kampung kami sedang mengalami kekeringan, maka ceritakanlah kepadaku, kapan hujan akan turun menyiraminya? Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui masa kelahiranku, maka ceritakanlah kepadaku, kapan aku akan mati?" Maka sehubungan dengan hal ini Allah menurunkan firman-Nya, "Sesungguhnya Allah hanya pada sisi-Nya saja pengetahuan tentang hari kiamat.....hingga akhir ayat." (Q.S. Luqman 34) .

 

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah  saw  bersabda:

 عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ لَا يَعْلَمُ مَا تَغِيضُ الْأَرْحَامُ إِلَّا اللَّهُ وَلَا يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلَّا اللَّهُ وَلَا يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي الْمَطَرُ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ وَلَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِلَّا اللَّهُ وَلَا يَعْلَمُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا اللَّهُ

Kunci yang gaib itu ada lima perkara, Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah sajalah Dia mengetahui apa yang dalam rahim, seseorang tidak mengetahui apa yang akan dikerjakannya esok harinya, Tidak ada yang tahu dengan pasti kapan turun hujan kecuali Allah, dan ia juga tidak mengetahui di bumi mana ia akan meninggal dunia kecuali Allah dan tidak yang tahu tentang Hari Kiamat kecuali Allah“.

 Allah swt  berfirman mengenai Kapan kiamat tiba?

 يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ  

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui".(Q.S. Al A'raf (7): 187)

 Pengetahuan yang ghaib itu hanyalah diketahui seseorang, jika Allah  swt  mengajarkan kepadanya, sebagaimana firman-Nya:

 عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا(26)إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (27)

 (Dia adalah Tuhan) Yang Maha Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridai Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (Q.S Al Jin: 26-27)

 Di antara hal yang gaib yang pernah di ajarkan atau diberitahukan Allah  swt   kepada Nabi-nabi-Nya ialah:

- Nabi Isa a.s.  ( lihat Q.S Ali Imran (3): 49 )

- Nabi Yusuf a.s. (lihat Q.S Yusuf (12): 37

 Kemudian Allah  swt. menerangkan keluasan ilmu-Nya, yaitu di samping Dia mengetahui yang ghaib, juga Dia lebih mengetahui akan hakikat dan keadaan yang dapat dicapai pancaindera manusia, yaitu Dia mengetahui segala yang ada di daratan dan di lautan sejak dari yang kecil dan halus sampai kepada yang sebesar-besarnya, sejak dari tempat dan waktu gugurnya sehelai daun, keadaan benda yang paling halus yang berada di tempat yang paling gelap, apakah keadaannya basah atau kering, semuanya ada di dalam ilmu Allah atau tertulis di Lauhul mahfudz.

 Rasulullah  saw  bersabda:

 عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ وَخَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ

Dari Imran bin Husain r.anhuma : Allah telah ada sebelum adanya selain-Nya dan adalah arsy-Nya di atas air dan Dia menuliskan pada Lauhul mahfudz segala sesuatu dan Dia menciptakan langit dan bumi. (HR Bukhari dalam bab Maa Ja’a fi Qaulillahi Ta’ala)

 Dari hadits di atas di pahami bahwa segala sesuatu yang ada tidak luput dari pengetahuan Allah.

* Gus  Arifin ( Ketua Dewan Syuro Agus Arifin Institute dan Ketua Jam’iyah Tilawatil Qur’an)

 
JIN MAKAN APA?
Selasa, 08 Maret 2011

Al-Quran dan hadis menunjukkan atas adanya jin yang berasal dari Api. Jin itu ada yang laki-laki dan yang perempuan. Jin itu kawin dan juga makan dan minum.

Tersebut dalam kitab al-Kaukabu al-Ajuj Fî Ahkâmi al-Malâ’ikati wa al-Jinni Wa asy-Syayâtîni Wa Ya’jûja Wa Ma’jûj halaman 159 dari kitab yang Ketujuh yaitu,

قَالَ الْقَاضِى اَبُوْ يَعْلى : اَلْجِنُّ يَأْكُلُوْنَ وَيَشْرَبُوْنَ وَيَتَنَاكَحُوْنَ كَماَ يَفْعَلُ اْلإِنْسُ.

Telah berkata al-Qadi Abû Ya‘lâ, Jin itu makan, minum, kawin, sebagaimana dilakukan manusia.

 

Hadits lain yang  diriwayatkan oleh al-Baihaqî

 عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِيْ لَيْلَى : أَنَّ رَجُلاً مِنَ الْأَنْصَارِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ خَرَجَ يُصَلِّيَ الْعِشَاءَ فَسَبَتْهُ الْجِنُّ وَفُقِدَ اَعْوَامًا وَتَزَوَّجَتْ زَوْجَتُهُ ثُمَّ اَتىَ الْمَدِيْنَةَ فَسَأَلَهُ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ ذَلِكَ فَقاَلَ اِخْتَطَفَتْنِيَ الْجِنُّ فَلَبِثْتُ فِيْهِمْ زَمَانًا طَوِيْلاً فَغَزَاهُمْ جِنٌّ مُؤْمِنُوْنَ وَقاَتَلُوهُمْ فَاَظْفَرَهُمُ اللهُ عَلَيْهِمْ وَسَبَوْا مِنْهُمْ سَبَاباً وَسَبَوْنِيْ مَعَهُمْ فَقاَلُوْا نَرَاكَ رَجُلاً مُسْلِمًا وَلاَ يَحِلُّ لَناَ سَبَاؤُكَ فَخَيَّرُوْنِيْ بَيْنَ الْمَقَامِ عِنْدَهُمْ وَالْقُفُوْلُ إِلَى أَهْلِيْ فَاخْتَرَتْ أَهْلِيْ فَاتَوْابِيْ اِلَى الْمَدِيْنَةِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَا كَانَ طَعَامُهُمْ قَالَ اْلفُوْلُ وَكُلُّ ماَلَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ قَالَ فَمَاكَانَ شَرَابُهُمْ قَالَ الْجَدْفُ (رواه البيهقي)

Dari ‘Abdurrahmân bin Abî Lailâ: Bahwa seorang laki-laki dari Ansâr (sahabat yang berasal Madinah)  pernah ke luar untuk shalat Isya, maka ia ditawan oleh bangsa Jin dan ia hilang untuk beberapa tahun dan isterinya telah kawin lagi, kemudian ia datang lagi ke Madinah, maka ‘Umar pun bertanya kepadanya tentang peristiwa itu, maka jawabnya. “Saya pernah disambar Jin, maka berdiamlah aku pada mereka dalam masa yang lama. Maka mereka itu diperangi oleh jin-jin yang beriman dan mereka itu dibunuh. Maka Allah memberi kemenangan jin-jin yang beriman atas mereka itu. Dan mereka menawan beberapa banyak tawanan mereka dan aku pun terbawa dalam tawanan itu.” Maka merekapun berkata, “Kami lihat engkau ini laki-laki Muslim dan tidak halal bagi kami menawan engkau. Maka merekapun memperkenankan daku untuk memilih antara tinggal tetap bersama mereka atau kembali kepada keluargaku. Maka akupun memilih keluargaku, Maka merekapun membawa aku ke Madinah.” Maka berkata baginya ‘Umar, “Apa yang menjadi makanan mereka?” Jawabnya, “Kacang Ful, dan apa-apa yang tidak disebutkan padanya nama Allah.” ia berkata lagi “Apa minuman mereka?” ia menjawab “Busa air.” (HR. al-Baihaqî).

 

Keterangan lain tercantum dalam kitab Hayatu al-Hayâwân juz ke-I halaman 265,

وَنَقَلَ اِبْنُ خِلْكَانَ فِى تَرِيْخِهِ فِى تَرْجَمَةِ الشَّعْبِيْ وَاسْمُهُ عَامِرٌ اَنَّهُ قَالَ اِنِّي لَقَاعِدٌ يَوْمًا اِذَا اَقْبَلَ حَمَّالٌ وَمَعَهٌ دَنٌّ فَوَضَعَهُ ثُمَّ جَاءَنِيْ فَقَالَ اَنْتَ الشَّعْبِيُّ ؟ فَقُلْتُ نَعَمْ قَالَ هَلْ لِإِبْلِيْسَ زَوْجَةٌ ؟ فَقُلْتُ اِنِّيْ ذَلِكَ الْعَرْشَ مَا شَهِدْتُهُ ثُمَّ ذَكَرْتُ قَوْلَهُ تَعَالَى اَفَتَتَّخِذُوْنَهُ وَذُرَّيَّتَهُ اَوْلِيَاءَ مِنْ دُوْنِيْ فَقُلْتُ اِنَّهُ لاَتَكُوْنُ ذُرِيَةٌ اِلاَّ مِنْ زَوْجَةٍ.

Dan telah Ibnu Khillikân mengutip dalam Tarîkhnya, dalam biografi asy-Sya‘bî dan namanya, Âmir, bahwasanya ia berkata, Sesungguhnya aku tengah duduk pada suatu hari, tiba-tiba munculah seorang yang memikul, bersamanya sebuah gentong.” Lalu ditaruhnya dan iapun datang kepadaku, seraya berkata, Engkaukah asy-Sya‘bî? Maka aku berkata, Ya.” ia berkata lagi, Beritahukanlah kepadaku, Apakah Iblis itu ada isterinya?” Jawabku, Sesungguhnya itu perkawinan, aku tidak menyaksikannya.” ia berkata, Kemudian aku bacakan firman Allah SWT, Apakah engkau jadikan Iblis dan anak cucunya itu pemimpin-pemimpin selain aku? Maka aku berkata, sesungguhnya tidak ada anak-cucu melainkan dari seorang isteri.”

 

Diriwayatkan dari ‘Abdullâh bin Masû ia berkata,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ قَدِمَ وَفْدُ الْجِنُّ عَلَى النَّبِيُ صلى الله عليه والسلام فَقَالُوْا يَا مُحَمَّدٌ إِنْهَ أُمَّتَكَ أَنْ يَسْتَنْجُوْا بِعَظْمٍ أَوْرَوْثَةٍ فَإِنَ اللهَ تَعَالَى جَعَلَ لَناَ فِيْهَا رِزْقاً (رواه ابو داود)

Dari ‘Abdullâh bin Masûd t, ia berkata, Pernah datang utusan Jin kepada Nabi SAW maka mereka berkata,Ya Muhammad. Cegahlah umatmu dari  pada beristinja’ dengan tulang atau tahi kering. Sesungguhnya Allah SWT telah jadikan bagi kamu padanya itu rizki.”  (HR. Abû Dâwud).

 

Menurut riwayat Abû ‘Abdullâh al-Hâkim, bahwa Ibnu Masû pernah bertanya,

وَمَا يُغْنِيْ عَنْهُمْ ذَلِكَ يَارَسُوْلَ اللهِ

Tidaklah mencukupkan bagi mereka itu akan yang demikian itu ya Rasûlullâh.

 

Maka Rasûlullâh SAW bersabda,

 

اَنَّهُمْ لاَيَجِدُوْنَ عَظْمًا اِلاَّ وَجَدُوْا عَلَيْهِ لَحْمَهُ الَّذِيْ كَانَ عَلَيْهِ يَوْمَ اُخْذِ.

Sesungguhnya mereka itu tidak mendapatkan tulang, melainkan mereka dapatkan atasnya daging yang ada padanya pada waktu diambilnya.

 

Yakni yang dimakan oleh jin itu adalah daging yang ghaib yang membungkus tulang itu. Hikmah dighaibkannya daging itu bagi kita supaya kita tidak berebut daging dengan bangsa Jin tersebut. Sebab kalau dilihat ada dagingnya, tentu kitapun mengingininya.

 
Shalat Sunnah: Boleh dengan duduk
Senin, 17 Januari 2011

Dalam Kitab Syarh An Nawawî alâ Shahîh Muslim 6/ h.256 dan h.258 dikatakan bahwa: ”Shalat sunnah juga dapat dilaksanakan dengan cara, sebagaian dengan berdiri dan sebagaian lainnya dengan duduk. Sedangkan pada shalat wajib/fardlu, berdiri merupakan salah satu rukun shalat. Bagi yang mampu berdiri, tapi ia meningglkannya maka shalatnya batal.”

 Shalat sunnah sambil duduk dinilai sama dengan setengah shalat, sebagaimana hadits marfu’

 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ وَهُوَ قَاعِدٌ مِثْلُ نِصْفِ صَلَاتِهِ وَهُوَ قَائِمٌ. مالك في الموطأ ج1136 ح307

Dari  Abdullâh ibn Amr Ibn Ash r.a sesungguhnya Rasûlullâh saw berkata : “ Shalatnya seseorang diantara kamu dengan duduk adalah seperti setengah shalatnya ketika dikerjakan dengan berdiri. (Al Muwaththa’- Imam Malik ibn Anas – Bab Fadhilah shalat sambil berdiri dibandingkan dengan shalat sambil duduk)

 Dan juga hadits:

عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الصَّلَاةِ وَالرَّجُلُ قَاعِدٌ فَقَالَ مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ

Imran bin Hushain r.a berkata:“Aku bertanya kepada Rasûlullâh saw mengenai shalat seseorang yang dikerjakan sambil duduk, maka beliau saw bersabda: siapa yang shalat dengan berdiri maka itu lebih baik, dan siapa yang shalat sambil duduk maka bagian pahalanya setengah dari orang yang shalat sambil berdiri, dan siapa yang shalat sambil berbaring maka bagian pahalanya setengah dari orang yang shalat sambil duduk.” (HR Muslim dan Ahmad)

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 15 dari 20

Konsultasi Online

Aktivitas

Jam Praktek
Kegiatan

Artikel Islam

Artikel Islam
Hadits Nabi

Login Form






Lupa Kata Sandi?
Belum memiliki akun? Daftar

Data Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini42
mod_vvisit_counterKemarin61
mod_vvisit_counterMinggu ini168
mod_vvisit_counterBulan ini472
mod_vvisit_counterKeseluruhan46588

Masehi dan Hijrah

Rabu, 08 Februari 2012 || 16 Rabiul Awal 1433 Hijriah