Selamat Datang di "Griya Sehat Barokah" Menuju Hidup Sehat dan Berkah

 Social Display

     

Wanita boleh ikut mencari nafkah atau tidak ?

Share this post
FaceBook  Twitter  Mixx.mn     
Ada e-mail yang dikirim kepada saya :
Apa Hukum Wanita Bekerja dan bagaimana tanggungjawabnya terhadap anak kelak diakhirat 
Dari Nayla –di Jakarta.

Ada Dalil di Al Qur’an : Surat An Nisa (4): 34
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289] ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka)[290]. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291], Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

[289] Maksudnya: tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.
[290] Maksudnya: Allah Telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.
[291] Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.
[292] Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama Telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

Dalam Kitab Tafsir Al Wajiz, Wahbah Zuhaily menafsirkan ayat ini :” Wanita (Istri) yang shalihah adalah wanita yang patuh kepada Allah swt, kepada suaminya, memelihara diri (kehormatan) dan anak-anaknya ketika suaminya tidak ada, membelanjakan harta suaminya dengan tidak berfoya-foya…

Hadits Nabi : 
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْأَمِيرُ رَاعٍ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ


Ibnu Umar ra. berkata bahwa Nabi saw. bersabda, "Setiap kamu adalah pemimpin dan kamu bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang Amir (Presiden, gubernur, bupati dll) adalah pemimpin, seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan seorang wanita adalah pemimpin atas rumah dan anaknya, Jadi, setiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya."
(Muttafaq 'alaih)

Jadi tugas pokok wanita (Istri) adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga serta terhadap (pendidikan/dan pembentukan akhlaq) bagi anak-anaknya serta menjaga kehormatannya. Dan ini yang dihukumi WAJIB karena ada konsekwensi pertanggungan jawab kepada Allah swt. (Nuzhatul Muttaqien Sarh Riyadhus Shalihin Bab 35)

Wanita (Istri) tidak dibebani (wajib) untuk mencari nafkah (bekerja) baik untuk dirinya sendiri maupun keluarganya, justru berhak mendapatkan nafkah dari suaminya (kalau perempuan tersebut telah menikah) atau walinya (kalau belum menikah), atau dengan kata lain seandainya dia bekerja , ma mubah hukumnya selama bisa tetap menjalankan fungsinya sebagai pemelihara terhadap anak-anaknya dan dapat menjaga diri dan kehormatannya.

Akan tetapi, bila sudah tercukupi nafkahnya dari suami maka seharusnya wanita/Istri harus mendahulukan yang Wajib dan mengabaikan yang mubah. Karena yang wajib itu lebih berat konsekwensinya (pertanggung jawabannya ) kepada Allah swt. Dalam Kaidah Ushul Fiqh :

اَلْوَجِبُ لاَيُتْرَكُ اِلَّا لِوَجِبٍ
Sesuatu yang wajib itu TIDAK BOLEH ditinggalkan kecuali karena sesuatu yang Wajib.

Maka tidak boleh seorang muslim/muslimah mendahulukan perbuatan yang mubah dan mengabaikan perbuatan wajib. Tidak boleh mendahulukan pekerjaan/karier, mengabaikan Rumah Tangga, mengabaikan pendidikan anak-anak. Wallahu'alam (gus Arifin)



 

Telah beredar buku "Tuntunan Doa Ibadah Haji dan Umrah" Buku Ke 26 Penulis Buku Best Seller -Gus Arifin- dapatkan di toko buku Gramedia.

Latest Article

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Link Group

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday33
mod_vvisit_counterYesterday147
mod_vvisit_counterThis week286
mod_vvisit_counterLast week869
mod_vvisit_counterThis month2214
mod_vvisit_counterLast month1444
mod_vvisit_counterAll days131202

Online Now: 2
Today: November 21, 2017